FOKUS : Kedes Humaidi, intervensi kami fokus pada pemberian makanan tambahan bagi balita, serta koordinasi berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kader posyandu, anggota PKK, hingga aparatur desa. (foto: rob)
berikabarnusantara.com, KUKAR – Pemerintah Desa (Pemdes) Lebak Cilong, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), berhasil mencatat penurunan angka stunting hingga 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini diraih lewat upaya intervensi terencana dan sinergi lintas sektor yang dijalankan secara konsisten.
Kepala Desa Lebak Cilong, Humaidi, menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari program pemberian makanan tambahan secara rutin, serta koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait.
“Intervensi kami fokus pada pemberian makanan tambahan bagi balita, serta koordinasi berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kader posyandu, anggota PKK, hingga aparatur desa. Semua pihak harus bekerja sama agar program ini berjalan efektif,” ujar Humaidi, Jumat (25/07/2025).
Sebelum melaksanakan rembuk stunting, pemerintah desa terlebih dahulu mengadakan rapat koordinasi di tingkat kecamatan, guna memastikan keselarasan visi dan strategi antar pemangku kepentingan.
Humaidi menegaskan, bahwa kesepahaman tujuan menjadi kunci utama dalam penanganan stunting secara optimal.
“Dari awal kami bersepakat untuk memiliki visi dan tujuan yang sama dalam upaya menurunkan angka stunting. Ini penting, agar langkah-langkah yang diambil tidak berjalan sendiri-sendiri,” imbuhnya.
Kendati capaian penurunan cukup signifikan, Humaidi mengakui masih terdapat beberapa kasus stunting di desanya.
Menurutnya, bahwa faktor usia anak dan kondisi kesehatan ibu hamil menjadi tantangan utama yang memerlukan perhatian khusus.
“Faktor risiko terbesar berasal dari kurang optimalnya pemantauan sejak masa kehamilan. Karena itu, kami melakukan pemeriksaan rutin bagi ibu hamil untuk mendeteksi potensi stunting sejak dini,” jelasnya.
Ditegaskan, bahwa pendekatan intervensi sejak dini yang dilakukan secara konsisten dan terpadu, telah memberikan hasil nyata dalam upaya penanganan stunting di Desa Lebak Cilong.
“Dibandingkan dengan tahun lalu, angka kasus telah menurun sekitar 80 persen. Ini adalah hasil dari kerja keras bersama,” tutur Humaidi.
Pemerintah desa, lanjutnya, akan segera melaporkan progres penanganan stunting tersebut ke tingkat kabupaten, sebagai bentuk pertanggungjawaban dan bahan evaluasi bersama.
Humaidi berharap, pola kerja sama yang telah terbangun di Desa Lebak Cilong dapat terus dipertahankan, demi mewujudkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
“Penanganan stunting bukanlah tugas satu pihak saja. Ini memerlukan kerja sama, komitmen, dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat, agar dapat berjalan dengan efektif dan berkelanjutan,” tandasnya. (rob)
Editor : 54H

