KETAHANAN PANGAN : Kades Hendra Wahyudi, kami ingin setiap rumah punya ketahanan pangannya sendiri. Pekarangan itu bisa diolah, bisa jadi sumber pangan. Tidak harus menunggu bantuan datang. (foto: rob)
berikabarnusantara.com, KUKAR – Desa Segihan, di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), membangun kemandirian pangan lewat program Satu Rumah Satu Bioflok (SRSB).
Desa Segihan di Kecamatan Sebulu, bisa dibilang menjadi contoh nyata bagaimana kemandirian pangan bisa dibangun dari langkah kecil.
Pasalnya, tidak mengandalkan lahan luas, warga justru memulai dari pekarangan rumah yang diubah menjadi sumber pangan dan ekonomi keluarga.
Program SRSB yang digulirkan sejak akhir 2024 menjadi pemicu perubahan tersebut. Melalui program ini, warga didorong menanam sayuran serta membudidayakan ikan lele di halaman rumah masing-masing.
Kepala Desa (Kades) Segihan, Hendra Wahyudi, bilang inisiatif itu berangkat dari keyakinannya, bahwa pekarangan rumah memiliki nilai yang selama ini kurang diperhatikan.
“Kami ingin setiap rumah punya ketahanan pangannya sendiri. Pekarangan itu bisa diolah, bisa jadi sumber pangan. Tidak harus menunggu bantuan datang,” ujar Hendra, Sabtu (16/08/2025).
Tidak hanya soal pangan, program ini juga membawa dampak ekonomi. Hasil panen sayur membantu menekan biaya dapur.
Sementara, kolam bioflok yang digunakan untuk budidaya lele memberi tambahan pendapatan bagi keluarga.
Tahun ini, Pemerintah Desa Segihan menyiapkan anggaran Rp600 juta dari Dana Desa untuk memperkuat sektor tersebut.
Dana itu difokuskan pada pembangunan embung, sistem drainase, dan irigasi agar pasokan air bagi warga tetap terjamin.
“Kami tidak ingin lagi ada cerita gagal panen karena sawah kering. Makanya, kami pastikan petani dapat air,” ujar Hendra.
Embung yang dibangun juga memberi fungsi ganda. Selain menampung air, sebagian dimanfaatkan sebagai kolam ikan, sehingga warga bisa mengembangkan ternak sebagai usaha sampingan.
Dengan pendekatan sederhana namun berkelanjutan ini, Desa Segihan berhasil menunjukkan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar wacana. Dari langkah kecil di rumah, dampak nyata mulai dirasakan masyarakat.
“Kami mulai dari rumah, dari langkah kecil. Tapi dampaknya sudah mulai terasa,” tutur Hendra. (rob)
Editor : 54H

