TANPA LISTRIK : Ilustrasi Desa tanpa aliran listrik. Kepala Desa Lamin Pulut, Antonius Wang Ngau, sudah lebih dari satu abad desa kami berdiri, tapi belum pernah merasakan listrik PLN. Ini menjadi kebutuhan mendesak bagi warga. (foto: int)
berikabarnusantara.com, KUKAR – Sudah satu abad lebih Desa Lamin Pulut di Kecamatan Kenohan, Kabupatean Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), hingga kini belum tersentuh atau memiliki aliran listrik dari PLN.
Menurut Kepala Desa Lamin Pulut, Antonius Wang Ngau, kondisi ini menjadi persoalan utama yang dikeluhkan warga setempat, karena berimbas pada berbagai aspek kehidupan.
“Sudah lebih dari satu abad desa kami berdiri, tapi belum pernah merasakan listrik PLN. Ini menjadi kebutuhan mendesak bagi warga,” ujar Antonius, Rabu (4/6/2025).
Antonius menjelaskan, bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk menyampaikan aspirasi warga ke pemerintah daerah hingga pusat, namun hingga kini belum ada hasil yang dirasakan.
Ditegaskan, ketiadaan listrik bukan hanya menghambat kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak besar terhadap pendidikan dan pelayanan publik.
“Kegiatan belajar mengajar dan pelayanan di kantor desa kerap terganggu, karena tidak adanya koneksi digital yang layak. Sekolah dan kantor desa kesulitan menjalankan aktivitasnya, karena tidak ada sinyal. Padahal, ini zaman serba online,” ungkapnya.
Selain listrik dan internet, infrastruktur jalan di Lamin Pulut juga memprihatinkan. Dari sekitar 8 kilometer jalan utama desa, baru sekitar 700 meter yang dibeton melalui program semenisasi pemerintah. Sisanya masih berupa jalan tanah yang rentan rusak, terutama saat musim hujan.
“Kalau hujan dan banjir, jalan bisa terputus total. Ini menghambat distribusi logistik dan menyulitkan warga, apalagi sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit,” jelas Antonius.
Ditambahkannya, membuka akses jalan menuju wilayah Kutai Barat (Kubar) bisa menjadi solusi alternatif, karena secara geografis lebih dekat dibanding jalur saat ini. Dengan akses yang memadai, hasil pertanian warga bisa dipasarkan lebih mudah.
“Kami tidak menuntut berlebihan, tapi kami ingin merasakan kemerdekaan yang sama, ada listrik, jalan yang layak, dan internet untuk belajar dan bekerja,” ingin Antonius dan warganya. (rob)
Editor : 54H

