PELUANG BESAR : Kepala DPMD Kukar, Arianto, kalau 15 persen dari Rp50 juta saja sudah terasa dampaknya, bayangkan dari Rp150 juta. Ini peluang besar untuk membangun dari bawah dengan semangat kolektif. (foto: rob)
berikabarnusantara.com, KUKAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), semakin serius mendorong budaya kolektif warga melalui program Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) 2025. Salah satu bentuk komitmen nyata yang dilakukan adalah peningkatan bantuan fiskal untuk setiap Rukun Tetangga (RT) yang kini mencapai Rp150 juta per tahun.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, menyatakan bahwa sejak awal, dana RT telah dialokasikan untuk mendukung kegiatan gotong royong. Dengan kenaikan nilai bantuan ini, diharapkan kontribusi RT terhadap penguatan partisipasi warga juga ikut meningkat.
“Dulu, saat bantuannya masih Rp50 juta, 15 persen sudah dialokasikan untuk kegiatan gotong royong. Sekarang dengan angka yang lebih besar, semangat kebersamaan itu bisa kita dorong lebih jauh lagi,” ujar Arianto, pada Rabu (16/07/2025).
Ditekankan, bahwa gotong royong bukan semata persoalan dana, melainkan perwujudan peran aktif masyarakat dalam memperbaiki lingkungan dan membangun wilayahnya sendiri.
Menurutnya, dengan pelibatan warga secara langsung, hasil pembangunan tidak hanya dirasakan lebih cepat, tapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.
“Kalau 15 persen dari Rp50 juta saja sudah terasa dampaknya, bayangkan dari Rp150 juta. Ini peluang besar untuk membangun dari bawah dengan semangat kolektif,” katanya.
Data sementara DPMD menunjukkan, bahwa sekitar Rp11 miliar dari dana RT telah digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan berbasis gotong royong.
Ragam kegiatan itu mulai dari perbaikan rumah ibadah, pengecatan fasilitas umum, hingga pembangunan drainase dan jalan lingkungan.
“Semua ini lahir dari kesepakatan dan keterlibatan warga. Bahkan, banyak juga yang secara swadaya menyumbang makanan, alat kerja, dan perlengkapan lainnya,” jelas Arianto.
Pemerintah daerah melihat praktik ini sebagai modal sosial penting yang harus terus dirawat. Karena itu, Pemkab Kukar menaruh perhatian besar pada keberlanjutan semangat gotong royong, tidak hanya saat BBGRM berlangsung, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup warga.
“Ini bukan soal berapa besar anggarannya, tapi bagaimana anggaran itu membangun rasa memiliki. Jika ke depan terbukti efektif dan membangun solidaritas sosial, tentu kami akan terus memperkuat alokasinya,” tandasnya. (rob)
Editor : 54H

